.
Public Relations (PR) adalah sebuah profesi yang sudah terbangun berpuluh-puluh tahun lalu. Namun, ilmu-ilmu yang sudah mapan itu kini harus diperbarui lantaran munculnya fenomena social media seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya.
Sejumlah orang telah menyatakan bahwa saat ini Public Relations (PR) telah sekarat. Merrka salah besar. Yang benar, saat ini PR tengah berubah atau bertransformasi. Jika dulu PR hanya tentang siaran pers, maka sekarang PR juga mencakup pembuatan konten, media sosial, dan banyak lagi. Oleh karena itu, agensi PR terus memperluas teknik dan menemukan cara-cara baru dalam menyentuh target pasar untuk klien mereka.
Humas Era Internet
Digital PR (Digital Public Relations) –disebut juga e-PR, Humas Online, Internet PR, Cyber PR, atau Humas Era Digital– bisa diartikan sebagai kegiatan humas secara online dengan memanfaatkan media internet –website, blog, media sosial, email, marketplace.
Digital PR merupakan “konsep baru” kehumasan, seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang membentuk “masyarakat digital”.
Hanya dengan sentuhan jari, warga dunia kini mampu mencari dan menemukan yang mereka inginkan dan butuhkan. Hanya dengan sentuhan jari pula, praktisi humas bisa menjalankan tugasnya –membangun citra positif lembaga dengan menjangkau seluruh dunia selama 24 jam!
Era digital saat ini menuntut praktisi humas (PR Officer) yang bukan saja memiliki wawasan dan keterampilan dasar kehumasan, tapi juga yang bisa mengikuti ritme perkembangan teknologi informasi, termasuk menguasai tip dan trik blogging, media sosial, dan menulisonline (online writing).
Cyber PR adalah PR yang dilakukan dengan sarana media elektronik internet dalam membangun merek (brand) dan memelihara kepercayaan (trust), pemahaman, citra perusahaan atau organisasi kepada publik/khalayak dan dapat dilakukan secara one to one communication bersifat interaktif. Kini, hampir seluruh aktivitas PR dapat dilakukan menggunakan teknologi internet dari mulai melakukan kegiatan publikasi, melakukan hubungan dengan pengguna informasi dan yang lebih hebatnya lagi bahwa management kehumasanpun dapat dilakukan di internet. Dengan demikian, kegiatan kehumasan bisa lebih fleksibel dari yang dilakukan di dunia nyata.
Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup, sejalan dengan hal tersebut, keberadaan konsumen Indonesia di dunia maya memang demikian substansial. Mereka telah menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidup dalam berbagi informasi, interaksi, dan diskusi antarkomunitasnya. Dengan demikian, hal tersebut juga mengubah perilaku konsumen dalam berhubungan dengan merek. Interaksi yang awalnya bersifat vertikal menjadi horizontal; dari awalnya satu arah menjadi dua arah; dari yang awalnya “one to many” menjadi “many to many”; dari awalnya “broadcasting” menjadi “engagment” dan “permission- based” . dengan perubahan-perubahan tersebut, maka pendekatan kepada konsumen pun juga harus dirubah, salah satunya melalui pemanfaatan media sosial yang menitikberatkan pada bagaimana menciptakan komunikasi dan engagment dengan konsumen.
Lalu, Bagaimana sebaiknya PR mengelola hubungan konsumennya di media sosial?
*Sumber: Majalah Mix




0Awesome Comments!